Thursday, December 10, 2009

Merenungi Pengorbanan Orang Tua

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik." (QS al-Isra` [17]: 23) Begitu santunnya Islam mengajarkan penghormatan kepada orang tua. Bukan saja dari raut muka, bahkan perkataan "ah!
" saja sudah terlarang. Apalagi menghardik dan bersikap keras atau kasar. Bahkan kita dilarang untuk memaki ibu bapak orang lain, sebab setiap kali kita memaki-maki orang tua orang lain, maka bisa jadi akan mengundang orang itu untuk memaki orang tua kita. Dan itu adalah kezaliman bagi orang tua. Harusnya kata-kata yang mulia saja yang keluar dari lisan kita. Kalau saja kita mau secara jujur merenungi jasa dan pengorbanan orang tua, terlebih ibu kita, niscaya akan kita temui betapa tidak ternilainya kasih sayang mereka.
Bayangkan! Sewaktu di perut ibu, sembilan bulan kita menghisap darahnya. Saat itu, ibu sulit berdiri dan berjalan pun berat, bahkan berbaringpun sakit. Tiga bulan pertama mual dan muntah karena ada kita di perutnya. Ketika kita akan terlahir ke dunia, ibu meregang nyawa antara hidup dan mati. Meskipun bersimbah darah dan sakit tiada terperi, tapi ibu tetap rela dengan kehadiran kita. Setelah lahir, satu persatu jari kita dihitungnya dan dibelainya. Di tengah rasa sakit, beliau tiba-tiba tersenyum dengan lelehan air mata bahagia melihat kita terlahir. Dan saat itu pula ibu menyangka akan lahir anak yang saleh yang memuliakannya.
Coba kita renungkan kembali! Pada waktu kita masih bayi, tidak kenal siang dan malam kita berbaring dan bangun sesuka hati. Padahal ibu kita hampir tidak tidur semalam suntuk. Rasanya, beliau tidak rela bila ada satu ekor nyamuk pun yang mengigit tubuh kita. Ketika kita mulai kecil mulai nakal, ibu bahagia memamerkan diri kita kepada tetangga-tetangganya. Walaupun untuk itu beliau begitu direpotkan, berutang sana sini agar kita punya sepatu dan berpakaian layak.
Ketika menjelang sekolah, ibu dan ayah sungguh-sungguh membanting tulang mencari nafkah, agar kita bisa sekolah seperti anak-anak yang lain. Walaupun mereka harus menahan lapar, namun puas asal anak-anaknya bisa kenyang. Dalam kenyataannya, seiring pertumbuhan kita, tidak sebaik itu bakti kita kepada mereka. Semakin lama kita semakin besar, mata jadi sering sinis kepada orang tua. Jangankan mencium tangan ibunda, untuk sebuah senyum pun kita terkadang berat untuk melakukannya. Bahkan ucapan dan tindakan kita seakan seperti pisau yang sering mengiris hatinya. Lebih dari itu, sering seorang anak begitu mudah menyuruh-nyuruh orang tuanya.
Tak ubahnya seperti pesuruh yang dihormati sekadarnya. Padahal tenaga, keringat, dan darah mereka habis untuk membela kita. Lebih parah lagi, ada sebagian anak yang tidak mau memuliakan orang tuanya. Manakala orang tua semakin jompo dan si anak tidak mau mengurusnya, maka dititipkan orang tuanya di panti jompo, astagfirullah. Ini adalah perbuatan yang sangat tercela. Padahal dulu kita sangat menyusahkannya. Harusnya semua itu diingat-ingat. Maka tak heran jika ada anak yang durhaka, anak yang tidak tahu balas budi, hidupnya di dunia ini akan diliputi penderitaan. Kita sering mendengar, betapa hukuman-hukuman Allah langsung diberikan pada anak-anak yang sering menzalimi orang tuanya.
Oleh karena itu, marilah kita berusaha untuk selalu mengenang kembali semua untaian pengorbanan orang tua. Beruntunglah bagi siapapun yang orang tuanya masih ada, karena jika orang tua sudah terbungkus kain kafan, kita tidak bisa lagi mencium tangannya atau menatap wajahnya. Karena itu kita harus memiliki tekad yang sangat kuat untuk berbakti pada orang tua. Minimal kita berhenti menyakiti hati orang tua hingga tidak ada luka yang ditoreh di hatinya. Syukur kalau kita sudah bisa menyenangkannya dan diberkahi manfaat besar bagi dunia dan juga akhiratnya. Dalam hal ini, yang paling penting dalam menghormati mereka bukan hanya dengan memberi harta. Namun yang paling dibutuhkan adalah akhlak dari anaknya.
Apalah artinya anak kaya, anak bergelar, anak berpangkat, tetapi tidak berakhlak kepada ibu bapaknya? Dan akhlak inilah sebenarnya kekayaan termahal yang bisa membuat sang anak doanya diijabah oleh Allah Azza wa Jalla, sehingga bisa menyelamatkan serta memuliakan ibu bapaknya. Betapa yang dirindukan orang tua itu senyum manis yang tulus dari anaknya serta ketawadhuan. Subahanallah Marilah kita semua menjadi anak yang berbakti kepada kedua orangtua, menjadi anak yang berakhlak mulia patuh pada Agama dan Bangsa....Amien.

Sumber : Islam - Inside

COMMENTS :

Don't Spam Here

15 Komentar to “Merenungi Pengorbanan Orang Tua”

Wah2.. iy...

nggak kebayang kalo misal kita kena kharmanya...

saat udah besar, memiliki anak.. bila anak kita melakukan hal yang sama terhadap kita.. mungkin kita baru bisa sadar....

Facechan said...
on 

jadi merinding membacanya sob, coz selama ini saya sudah banyak berdosa sama ortuku..
makasih info yg sngat menarik ini sob..

http://mangkasarakku.blogspot.com/

To Mangkasara' said...
on 

nice post....i am crying :(
My parents have been .....:cry:

michelle said...
on 

hu hu hu hu.......i miss you MOM

ski vacations said...
on 

@Facechan : Penyesalan tidak berguna, mumpung masih sekarang
@To Mangkasara' : Sama sama
@Michelle : Crying together
@Ski Vacations : Heaven under mother foot palm

kelirirenk said...
on 

alhamdulillah.....aku masih bisa berbakti pada mereka...

Periksa optimasi Meta Tag Blog Mu Disini

Check your Meta Tags here said...
on 

semoga anak2 kita jadi anak yang berbakti...
kerasa kalau sudah jadi orang tua...hiks...

narti said...
on 

banar sekali Al Quran telah mengajarkan kepada kita, tinggal bagaimana kita melaksanakannya.
makasih sharingnya.

sda said...
on 

klo sudah menyangkut orang tua...
nie bikin hati ina jdi lebih bergetar...
Na sayang mereka...

ina said...
on 

@Check Your Meta : Amin, semoga selalu berbakti
@Narti : Selamat membimbing anak agar berbakti
@SDA : Iya, pedoman hidup
@Ina : Bersyukur Na sayang orangtuanya

kelirirenk said...
on 

orang tua adalah Tuhan dalam dunia. jadi jangan sakiti hati mereka

rumah blogger said...
on 

begitu besar pengorbanan ortu kepada kita, wajar saja kalo kita membalas kebaikan dengan membahagiakannya.

sabirinnet said...
on 

salam sahabat
ehm,,,,dengan ini maka kita akan mengambil banyak hikmahnya siip postingnya memberikan inspirasi yang mendalam thnxs n good luck ya

Dhana/戴安娜 said...
on 

@Rumah Blogger : Eeeehm, jangankan menyakiti, berucap Aaah saja adalah dosa
@Sabirinnet : Bahkan nyawa dipertaruhkan orang tua terhadap anaknya
@Dhana : Amin

kelirirenk said...
on 

Kasih anak sepnjang galah,kasih orang tua sepanjang masa

leonardo said...
on 

Post a Comment

Related Posts with Thumbnails
 

Copyright 2009 Purworejo Undercover by Mas Doyok